Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Sunday, July 12, 2015

The Epic Fail Holiday In The Hope Island : Seribu Islands

Waktu bisa jadi beharga ketika menentukan liburan. Liburan yang singkat belum tahu ke mana, ingin berenang, menikmati udara bersih dan matahari tanpa adanya hiruk pikuk penatnya Jakarta, ini jawabannya!

Perjalanan ini dimulai untuk merayakan kepergian teman saya yang akan belajar ke negara lain. Untuk perayaannya, "Ras, jalan-jalan yuk ke pulau? Tanya saya ke Raras. Ajakan ini didukung dan disetujui oleh rekan lainnya. 

Setelah mencari informasi dan menentukan tujuan ke Pulau Harapan, sehari sebelum keberangkatan, saya dikabari bahwa pulau tersebut penginapannya sudah penuh. Hal yang paling menggemaskan ketika sudah merencanakan dan mengatur jadwal liburan, bisa batal karena tidak mendapatkan penginapan. 

Sejenak saya berpikir, jika tidak dapat penginapan, mungkin camping disalah satu pulau terdekat, pastinya akan seru juga. Pergi ke pulau yang tidak ada penghuninya, mungkin belum ada listrik dan bisa bebas berekspresi, itu tempat yang saya harapkan untuk menikmati liburan kali ini. 

........

Tepat di hari keberangkatan. Terdengar suara adzan subuh berkumandang. Menandakan saya dan delapan teman-teman harus segera berangkat dari tempat berkumpul menuju ke pelabuhan Muara Angke. Dengan menggunakan dua taksi dengan akses tol lingkar luar Jakarta, sesuai dengan janji temu pukul lima subuh di pom bensin Muara Angke, kami bertemu dengan dua teman lainnya.

Kondisi pagi di Muara Angke. Namanya juga pasar ikan. Masker penutup hidung seperti alat bantu pernafasan. Saya sedikit kaget melihat hiruk pikuk kepadatan disini. Saya mengira kemacetan terjadi karena pedagang yang berjualan. Ternyata, orang yang ingin berlibur ke pulau sangat banyak jumlahnya.




Setelah personil lengkap, kami berjalan untuk menaiki kapal. Wah, untuk saya, ini merupakan pengalaman yang berkesan. Selagi mencari kapal yang berlabuh menuju Pulau Harapan, saya harus hati-hati dalam melangkah. Jika salah melangkah disaat menyebrang kapal, saya akan nyebur di air laut yang sudah terkontaminasi, warnanya berubah menjadi hitam!

Setelah menemukan kapal dan duduk tenang. Ternyata, kami harus menunggu kapal ini terisi penuh penumpang. Ditambah lagi, penumpang dipaksa untuk duduk berdesakan di dalam maupun diluar kapal.






Selain itu, baru pukul sembilan pagi sekitar tiga jam kapten kapal baru berlabuh. Komentar dari teman saya yang sudah pernah pergi ke kepulauan seribu,"emang begini, kalau datengnya siang nggak dapet tempat". Doweng! Meskipun terlihat seperti kacau balau, perjalanan kali ini memiliki sisi yang berbeda dan unik dibandingkan dengan perjalanan saya ke Kepulauan Derawan atau Pulau Karimun Jawa.

Oia, meskipun batal berlibur di Pulau Harapan, kami tetap ada harapan melihat Harapan pada saat transit menuju Pulau Perak.



Hello Captain! Lets Go!

Tanpa ABK, kapal akan bertabrakan. Sangat tradisional cara mereka mengoprasikannya

Akhirnya berangkat juga dengan pemandangan berkabut tipis


Lihat tulisan berikutnya:














Wednesday, March 25, 2015

STOP EXPLOITATION

Setelah melihat file-file lama, saya menemukan video yang setelah diputar, membuat saya terpana. Sayang rasanya, tugas dari zaman kuliah dulu hanya tersimpan di brankas digital saja. Saya persembahkan video ini kepada dunia.

Save Planet, Enjoy!



Sunday, April 6, 2014

Never Met With Cassiopea : Kakaban Island

Kembali menapakkan kaki di Kalimantan merupakan hal yang menyenangkan. Fenomena alam dan masyarakat lokalnya membuat saya tertarik untuk datang kembali. Setelah saya menjelajah ke pedalaman Dayak Kenyah, kali ini saya bersama teman-teman datang menjelajah ke danau, di sebuah kepulauan Kalimantan Timur. 

Danau ini tercipta karena adanya pergerakan lempeng bumi yang mengakibatkan pergerakan tanah membentuk atol. Sehingga memperangkap air laut di dalamnya, lalu bercampur dengan air tanah dan air hujan. Danau yang tercampur dari berbagai elemen ini merupakan fenomena alam yang terjadi dua juta tahun lalu. Jadi, pada saat berenang disana, air terasa tawar namun ada rasa asinnya. 

Danau ini dikenal dengan nama Pulau Kakaban. Menurut cerita dari penjaga pulau, nama ini berasal dari para pelaut, masyarakat Bajo. Mereka memberi nama Kakaban karena bentuk atol seperti bentuk memeluk.  


Setelah menepi di dermaga, kami tak lupa untuk berfoto di pintu selamat datang Pulau Kakaban. Untuk menuju ke danau, masih sekitar satu kilometer menyusuri jalan seperti tangga yang terbuat dari kayu ulin. Sensasi ini membuat saya tidak sabar untuk bertemu biota yang ada disana.

Danau Kakaban merupakan danau yang unik. Dengan adanya proses geologi, makluk seperti ubur-ubur terjebak di dalamnya. Namun, Cassiopea nama lain dari makhluk yang memiliki tekstur kenyal seperti jeli ini sudah berevolusi, tidak menyengat untuk bertahan hidup berbeda seperti ubur-ubur umumnya. Tidak sabar bukan untuk berenang dan foto bareng ubur-ubur di Kakaban?

Setelah menyusuri hutan bakau dan jenis pohon lainnya, terlihat cahaya terang membentuk sebuah cekungan yang luas. Itu dia! Danau Kakaban yang saya nanti-nanti. Secara otomatis kesabaran saya lebih mempercepat langkah kaki, namun harus berhati-hati karena harus menuruni anak tangga lagi. Cukup lelah karena terburu-buru ingin melihat ubur-ubur tak menyengat!




Pengalaman berbeda lainnya dari Kepulauan Derawan. Setelah menapak di Pulau Maratua, Kakaban merupakan Pulau yang eksotis bagi saya. Belum saja untuk menyemplung, sudah terlihat jellyfish lake berwarna seperti putih transparan dan kekuningan berada di permukaan.

Snorkling di Kakaban memiliki aturan sendiri. Tidak menitik beratkan kita kok untuk datang kesana. Syarat pertama, jangan melompat ke dalam air. Kedua, jangan memakai fin karena lompatan kita dan kibasan dari sepatu katak dapat melukai bahkan membunuh ubur-ubur. Sayang bukan karena kecerobohan kita ekosistem disini terancam?

Tidak perlu takut ketika melihat ubur-ubur. Mereka mahkluk yang ramah. Boleh menyentuhnya namun lakukan dengan perasaan, seperti sayang kamu ke aku,"sayang, sayang..", ceilah!!



My sister say; wouww! It's nice and funny

Dea say; so soft and friendly. Umbel

My friend, Jodi say; so lovely and amazing like xxx


Chewy but adorable

Sunday, March 9, 2014

Amazing Feeling : Bromo Mount.


Pagi buta, pada pukul setengah dua dini hari saya dan teman-teman pergi dari Malang menuju ke Desa Tumpang. Setiba disana kami mengganti kendaraan dengan mobil Jeep, 4x4 wheel drive. Kondisi cuaca saat itu cukup dingin. Terlihat kepulan asap tipis keluar dari mulut atau hidung jika bernafas atau berbicara. Tak lupa dengan jaket tebal agar suhu tubuh tetap hangat.

Sekitar 1 jam perjalanan dari Tumpang menanjak ke Bromo. Menyenangkan rasanya dapat berkendara dengan atap terbuka. Selama perjalanan, langit yang gelap rasanya menerangi perjalanan. Meskipun bulan tidak terlihat, langit menjadi cerah karena adanya rasi bintang yang bersinar membentuk sebuah galaksi. 

Udara dingin pun tak terlalu terasa ketika melihat bintang-bintang bertebaran. Rasanya tenang, riang dan takjub akan pemandangannya. Tak lama menikmati bintang, kondisi jalanan berubah menjadi menanjak dan menuruni bukit. Setelah menuruni bukit, perjalanan berubah menjadi berkabut yang super tebal. Saya bersama yang lainnya membantu pengemudi, si Cak Ren untuk menentukan arah, "kiri, kiri, Cak!! Kanan, kanan, Cakk!".

Kondisi perjalanan benar-benar gelap. Bintang pun sudah tak terlihat karena tertutup kabut. Mata hanya bisa melihat lampu Jeep yang menyorot ke depan. Perkiraan saya, jarak pandang tidak lebih dari 1 meteran yang terlihat. Meski belum habis setengah perjalanan, saya sudah menikmati keseruannya. Perjalanan kali ini menyenangkan, menegangkan dan menabjubkan! 

                                                                                                                                                               Photo by Imam Wahyudi


Setelah memasuki daerah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, kami menuju ke Penanjakan. Lokasi tersebut merupakan tempat untuk melihat matahari terbit. Setibanya di Penanjakan, sekiranya perlu 15 menit berjalan kaki menuju lokasi. Sesampainya diatas, kami mengatur nafas dan bercengkrama dengan yang lainnya. 

Langit gelap seakan berbicara dengan saya. Tak lama menunggu, terlihat pancaran warna orange yang ingin menunjukkan sosoknya. Sejaman saya melihat perpindahan gradasi langit yang gelap berubah menjadi terang. Selain dari itu, pemandangan yang tak biasa dilihat adalah ketika kabut terlihat rendah di antara pepohonan dan pedesaan di bawah bukit. Celah matahari masuk menyinari kesela-sela pohon merupakan objek yang sayang untuk dilewatkan.

Enjoy and relax


  





Matahari terbit dari sebelah kiri. Keasyikan saya terbagi menjadi dua, antara melihat fenomena dan memotret momen terbitnya matahari. Setelah puas, pemandangan menjadi lebih jelas terlihat. Sisi kanan terlihat Gunung Bromo yang bersebalahan dengan Gunung Batok. Lelah maupun stress akan hilang ketika berada di puncak melihat indahnya dunia.





Monday, February 17, 2014

Inside Borneo : Dayak Kenyah

Potret Masyarakat Dayak Kenyah, Long Alango 1950-an
Cobalah kenali sejarah budaya walaupun sedikit. Dari Sabang hingga Merauke banyak sekali kepulauan dan masyarakat lokal yang tinggal di dalamnya. Salah satu pengalaman yang berharga ketika saya mencari pemukiman masyarakat Dayak Kenyah di Kalimantan. Saya mencoba menyusuri persebaran mereka dari Kalimantan Timur hingga masuk ke pedalaman Kalimantan bagian Utara. 

Penyusuran kali ini, selain bertemu masyarakat Dayak Kenyah di pedalaman, saya ingin melihat kesenian, budaya dan tradisi yang dikatakan kuno. Selama perjalanan, selain tarian dan permainan musik, hal yang sudah menjadi langka untuk dijumpai adalah tato dan kuping panjang. Hal itu merupakan salah satu ciri khas dari masyarakat Dayak Kenyah. Karena tidak semua masyarakat Dayak di Kalimantan menggunakan tato dan memanjangkan kupingnya. Tradisi ini pun sudah ada sejak turun temurun. Tahu mengapa?

Kuping panjang Apui (Nenek) Lembesan
Dulu, alasan orang Dayak Kenyah memanjangkan kupingnya adalah untuk membedakan yang mana manusia dan Orang utan. Jika masih kecil, guyonan mereka kalau tidak memanjangkan kupingnya, akan dibilang, "ihh seperti Orang utan aja..". Selain itu, alasan memanjangkan kuping adalah membedakan antara laki-laki dan perempuan. Karena saat malam hari kondisi penerangan pemukiman atau rumah sangatlah minim. 

Perbedaan kuping panjang laki-laki dan perempuan adalah kuping perempuan lebih panjang dibandingkan laki-laki. Hal itu dikarenakan laki-laki harus bekerja atau berburu makanan, maka kuping tidak terlalu panjang dan tidak terlalu berat membawa anting-anting selama perjalanan. Anting-anting tersebut dipasang setiap waktunya dimulai sejak usia dini. Mereka pun beranggapan, perempuan yang memiliki telinga panjang merupakan wanita yang cantik di desa tersebut. Kuping panjang pun pernah menjadi identitas diri untuk membedakan Dayak Suku Kenyah dengan Dayak suku lainnya. 

Meski tradisi ini masih dijalani 70 tahunan silam, kini sudah jarang untuk bertemu masyarakat Kenyah yang memiliki kuping panjang. Setidaknya, saya masih bertemu di beberapa desa. Usia yang paling muda, kini sudah mencapai usia 80 tahunan. 

Dayak Kenyah Generasi 80+
Kiri ke kanan : Oko Balan Ingan, Apui Ahan Lian dan Apui Lembasan
Sangat disayangkan, banyak masyarakat Dayak Kenyah, terutama kaum wanita memotong kuping panjangnya agar terlihat normal kembali. Menurut mereka setelah mengenal masyarakat luar, memanjangkan kuping merupakan hal yang tidak baik dilakukan. Bagi masyarakat luar pun berpikir bahwa, orang yang kupingnya panjang dikatakan aneh, tidak seperti masyarakat lainnya yang hidup di perkotaan. 

Selain itu, budaya tato Dayak Kenyah pun merupakan ritual yang dapat dilakukan seiring waktu dengan pembuatan kuping panjang. Pada zamannya, tato dan memanjangkan kuping merupakan kegiatan yang tak terpisahkan. Namun, tidak semua masyarakat yang memanjangkan kuping lalu menato tubuhnya. Hanya orang tertentu saja yang bisa menato tubuh. Tato Dayak Kenyah yang saya jumpai terdapat pada kaum wanita. 

Tato bagi mereka merupakan simbol kehidupan. Kehidupan yang terjadi pada masyarakat Dayak suku Kenyah berawal atas terciptanya suatu raga dan jiwa yang baru. Suatu kelahiran dianggap mereka sebagai manusia yang sempurna dengan keadaan murni dan belum memiliki tato. Leluhur Dayak Kenyah pun memberikan keyakinan kepada keturunannya agar menato tubuh pada saat memasuki usia dewasa. 

Hasil rajah tangan motif Dayak Kenyah Nek Djigit 

Tato di kaki merupakan kaum bangsawan
Tato Dayak Kenyah yang saya jumpai di buat di tangan, dari jari-jari hingga pergelangan. Ada juga yang membuat tato di bagian kaki. Tato dibagian kaki merupakan kaum yang terhormat. Pembuatan tato pun dikerjakan dalam kurun waktu yang lama dengan merasakan sakit akibat luka dari proses menato. 

Tato suku Kenyah dalam kesehariannya merupakan sebuah tanda yang menghasilkan sebuah makna dari simbol yang ada. Tato merupakan bagian dari sejarah budaya maupun kesenian yang tercipta dari kepingan zaman. Tato menjelaskan juga bahwa Indonesia merupakan tempat pembuat tato pada zaman dulu. 



Other Stories ; 

Monday, February 10, 2014

Local Citizen Residential : Dayak Kenyah

Desa Masyarakat Dayak Suku Kenyah di Bahau Hulu

Sudah sekitar tiga mingguan saya berada di pedalaman Kalimantan. Tepatnya, di Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau. Senang rasanya sudah bisa berbaur dan dapat diterima oleh masyarakat pedalaman. Memang, saat pertama kali saya datang, selain rasa bahagia karena sudah mencapai tujuan awal, yaitu menemukan pemukiman pedalaman Suku Kenyah, di minggu pertama, saya masih merasakan kesepian, terutama di malam hari. Namanya juga pedalaman.. Hahahaa

Jangan salah dengan istilah pedalaman. Pertama kali saya membayangkan "pedalaman" adalah pemukiman masyarakat tanpa adanya fasilitas dan masih tradisional. Akan tetapi, pemukiman masyarakat pedalaman sudah cukup maju dan masih berkembang. Hal yang membuat kangen akan pedalaman Bahau Hulu adalah udara yang segar, adem, dan mendapatkan kedamaian di daerah ini. 

Kalau boleh jujur, hari pertama saya tinggal di rumah Kepala Adat, Pak Anyie Apui, di Desa Long Alango, saya rasanya ingin pulang! Hanya alasan klasik, bukan karena disini tidak adanya sinyal, bukan juga karena penggunaan listrik yang terbatas disaat malam hari. Rasa ingin pulang karena kangen rumah. Alasan klasik, bukan? Tapi itu hanya perasaan saja karena perjalanan ini saya tempuh sendirian.

Membuat wadah dari anyaman rotan

Gotong royong untuk membuat minuman dari singkong

Wadah untuk memasak minuman dari singkong

Rasanya agak asin manis, katanya terasi tapi terbuat dari buah

Aktivitas warga di pedalaman adalah bertani, menganyam, hingga berburu. Jadi, jangan pernah berpikir akan kesusahan mencari makan kalau pergi ke pedalaman. Makanan disini menurut saya organik. Makanan sehari-hari berasal dari hasil menanam sendiri, seperti beras, singkong, kangkung, pakis hingga sayuran yang berasal dari hutan. 

Kalau kamu seorang vegetarian atau vegan, jangan cemas untuk datang ke pedalaman. Karena masyarakat Dayak juga gemar makan sayuran. Selain itu, masyarakat Dayak juga suka mengkonsumsi daging, jika mereka mau, harus berburu dulu. Berburu dilakukan oleh laki-laki. Biasanya mereka lebih memprioritaskan daging babi daripada rusa atau kijang atau hewan buruan lainnya. Sangat mandiri bukan masyarakat pedalaman? Mereka bisa saja hidup tanpa uang, jika kalau mereka menginginkannya. 

Kegiatan yang tidak akan pernah berhenti dilakukan adalah mencari kayu dan masak. Jelas sudah, kayu dibakar untuk memasak. Jenis dapur disetiap rumah di desa-desa kurang lebih hampir sama. Bagi masyarakat kota, pasti tidak terbiasa memasak disini, karena di dalam dapur pasti mengepul asap yang cukup tebal. 


Anjing yang ada di perkampungan sering menemani masyarakat berburu
Selama beberapa minggu di pedalaman, sedikit rasa jenuh didapati. Tentu saja, maupun sekali-kali sebelum tidur saya masih mendengarkan musik dari gadget, ketergantungan akan elektronik berkurang bagi saya. Selalu ada saja yang dilakukan setiap harinya. Selain bersosialisasi, selama di pedalaman, saya dapat melatih skill, seperti menganyam, memasak atau bertani. Meskipun terik matahari di sana sangatlah terik, bercocok tanam hal yang saya gemari daripada menganyam. Menurut saya, menganyam diperuntukan bagi manusia yang benar-benar rajin dan telaten. 

Budaya yang mereka berikan sangatlah ramah. Jika bermain ke rumah warga, setidaknya disuguhkan kopi atau teh hangat. Menurut saya, minuman selamat datang dari mereka kurang lebih manisnya seperti sajiannya orang Jogja. Untung saja masyarakatnya sudah bisa berbahasa Indonesia, jika tidak, janganlah cemas, anak-anak Dayak Kenyah kebanyakannya mengerti dua bahasa, yaitu Indonesia dan bahasa Kenyah. Jadi, dalam perjalanan saya kali ini, sering ditemani sama anak-anak, biasanya sepulang mereka sekolah saya diajak jalan-jalan. Sore hari biasanya mandi di sungai! Hati-hati ada buaya katanya.. 

Desa Long Kemuat, Bahau Hulu

Salah satu pengalaman lainnya yang membuat saya terkesan, bertamu di pagi hari ke tempat suami istri yang usianya sudah mencapai 80 tahunan lebih. Mereka kurang berbahasa Indonesia dengan lancar. Selama saya bertamu kesana, kebingungan saya akan bahasa teralihkan karena si Uwe' (panggilan seorang ibu dalam bahasa Kenyah), pandai menganyam sebuah topi khas Dayak Kenyah. Cukup susah untuk mempelajarinya pertama kali. Bahan rotan berbilah tipis dan kecil, cukup pusing untuk mempelajari pola anyaman, asal konsentrasi penuh, topimu akan jadi juga. Senang rasanya bisa membantu dan dikasih pula topi buatan tangan sebagai kenang-kenangan.

Sayang sekali, kuping si Uwe' dipotong. Dulunya kupingnya panjang seperti cerita atau gambar wanita masyarakat Dayak Suku Kenyah. Banyak terjadi pergeseran budaya karena adanya moderinisasi yang tidak disadari dampaknya ke masa depan.  

  
Topi yang dianyam, terbuat dari rotan. Ditambah manik-manik agar tambah menarik

Hari pun berganti hari. Tibalah saatnya saya harus meninggalkan desa di pedalaman Kalimantan ini. Perasaan sedih pun ternyata muncul. Ada perasaan berat hati untuk kembali ke Ibu Kota. Tidak banyak peristiwa saya abadikan dengan mata kamera saya. Kenangan yang terekam oleh mata saya, akan terkenang, tak akan terlupakan dan hanya dari cerita inilah bisa abadi. 

Saya berharap dapat berkunjung kesana lagi, bertemu dengan masyarakat Dayak Kenyah dan bentangan nuansa alam yang indah. Masyarakat kota bukanlah masyarakat adat, masyarakat adat bukanlah masyarakat perkotaan. Maka masyarakat adat akan mati jika tidak ada hutan. 

Terima kasih telah menjaga hutan dan mari kita menjaga hutan untuk menjadi warisan turun-temurun.



Other stories ;


Tuesday, January 21, 2014

Seeking for Local Peeps Foot Prints: Dayak Kenyah



Sejak menginjakkan kaki di Bahau Hulu, Pulau Kalimantan, terasa sudah perbedaan dengan Pulau Jawa, terutama Jakarta. Sangat jelas perbedaan suhu udara yang lebih sengat, terasa haus dan lapar ketika harus berjalan menyusuri pinggir Sungai Bahau untuk menuju ke Desa Long Alango.

Perjalanan cukup panjang, akses untuk menuju ke pedalaman Suku Kenyah hanya dapat ditempuh dengan dua cara, yaitu udara dan air. Jalur yang saya tempuh menggunakan pesawat capung berjenis Pilatus PC-6 Porter dengan kapasitas tujuh orang beserta pilot, yang berarti satu pilot dengan enam penumpang, atau dengan bobot maksimal 1.000 kilogram. Sebelum menaiki pesawat, beban manusia harus ditimbang agar tidak berlebih. Selain pesawat, jalur yang digunakan menggunakan ketinting (perahu kayu bermotor), dengan menyusuri sungai hingga menuju Bahau Hulu.

Memiliki dua sisi berbeda dalam menikmati pemandangan di Kalimantan, karena menggunakan pesawat yang terbangnya rendah, saya dapat melihat sekawanan burung terbang diatas hamparan hijau. Kombinasi warna hijau muda dan tua sedikit warna kecoklatan mengurangi kecemasan saya akan guncangan angin di pesawat capung ini.






Waktu tempuh udara dari Kota Malinau sekitar 1 jam, tergantung situasi cuaca. Jika cuaca tidak memungkinkan untuk terbang atau mendarat, penerbangan pun dapat dibatalkan dan menunggu jadwal penerbangan berikutnya. Ketika akan mendarat, perasaan di dalam pesawat sangat menegangkan bagi saya, baru terbang rendah pertama kalinya. Terlihat bukit di sisi kiri kanan dan sungai. Seketika, Sang Pilot mengurangi kecepatan dan ketinggiannya, jalur pendaratan terlihat dari depan kokpit. Disaat ban pesawat menyentuh tanah, terasa guncangannya seperti menaiki mobil 4WD menyusuri jalanan berkerikil. Hilang sudah kecemasan..


Lapangan Terbang Long Alango

Perjalanan untuk mencari pemukinan Masyarakat Dayak Kenyah masih ditempuh sekitar 1 jam dengan berjalan kaki. Desa Long Alango merupakan desa yang saya tuju. Rute perjalanan mencari desa cukup menguras tenaga. Daratan yang tidak rata, beberapa lokasi cenderung seperti menaiki bukit yang terjal dan turun untuk melewatinya. Cukup melelahkan, membuat saya haus dan lapar. Dengan perbekalan seadanya, sudah habis sebelum perjalanan dimulai. Untung saja saya memiliki tekad untuk mencari pemukiman masyarakat Dayak.

Setelah sekitar 30 menitan berjalan kaki, saya melihat pondokan yang terbuat dari kayu, berharap ada warga setempat yang bersedia memberikan air minum untuk membasahi tenggorokkan yang sudah kering ini. "Permisi..", Ternyata ada dua orang warga sekitar yang sedang menanam di ladang. Saya pun menaruh tas bawaan yang beratnya mencapai 20 kilograman, lalu mengatur nafas yang sudah terengah-engah. Saya sempat lupa memperkenalkan diri karena merasakan panas sekujur tubuh. Badan saya kaget untuk menjelajah di tanah Kalimantan. Untung saja, sambutan kedua ibu di pondokan ini sangatlah ramah. Saya disugukan air minum. Saya pun dengan senyum bahagia, meminum, menegak hingga habis. Saya meminta air lagi tanpa rasa malu. Ibu-ibu ini hanya tertawa melihat saya kelelahan. Maupun tidak mengaca, saya yakin muka saya pasti memerah karena kepanasan kena teriknya matahari di belahan Kalimantan. Setelah saya sudah bisa mengatur nafas, saya memperkenalkan diri kepada ibu-ibu ini. Saya pun bertanya jalur untuk mencapai Desa Long Alango, dan ternyata, mereka kurang mengerti bahasa Indonesia. Mereka mengobrol bersama dengan bahasa yang saya kurang mengerti. Tak lama setelah itu, Salah satu dari ibu ini menawarkan saya makanan. Yak! Makanan! Mereka tahu saja kalau saya memang lapar. Ditawarkan sebuah timun. Dengan senang hati saya menerimanya. Segar sekali rasanya untuk gigitan pertama. Lelah pun sekejap seperti hilang maupun tidak banyak yang saya bincangkan dengan kedua ibu ini, hanya bahasa tubuh saja dan membuat kita tertawa di siang bolong. Gigitan terakhir saya lahap, "huweekk", rasa pahit dari buah ini terasa. Mereka pun tertawa terbahak-bahak, "Hahaahahaaa..". Senyum bahagia rasanya membuat saya ikut bahagia dan merasa nyaman untuk datang ke pedalaman masyarakat Dayak. Sepenggal perkataan dari mereka ada yang saya mengerti sedikit. Rasa pahit yang saya makan dari buah timun, menurut mereka bisa dijadikan sebuah obat malaria. Benar atau tidaknya belum teruji medis.

Sungai Bahau merupakan sungai utama untuk mencapai ke pemukiman desa.
Terlihat di sisi kiri ketika menjelajahi Desa Long Alango jalur darat.



Other stories ;